1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Alternatif Murah untuk Cek Jantung

Teknologi non-invasif yang dikembangkan di India bisa membantu deteksi dini penyakit jantung. Alat ini memberi alternatif bagi jutaan warga India yang setiap tahun meninggal akibat penyakit jantung.

Para peneliti di Pusat Inovasi Teknologi Medis (HTIC) di Chennai telah menciptakan sebuah alat sederhana untuk mengecek pembuluh darah yang kaku dan memberi peringatan saat ada masalah dengan jantung.

Alat yang diberi nama ARTSENS tersebut membantu mencegah menjamurnya penyakit jantung akibat faktor-faktor seperti asupan tak sehat dan stres.

Rumah sakit berskala kecil di seluruh dunia dapat memanfaatkan teknologi ini

Rumah sakit berskala kecil di seluruh dunia dapat memanfaatkan teknologi ini

Hingga kini, ultrasonografi medis yang menggunakan pencitraan selalu dipakai untuk mengetes elastisitas dan struktur sebuah pembuluh nadi. Mesin USG konvensional umumnya besar, mahal dan perlu dioperasikan oleh tenaga ahli.

Cara kerja

Jayaraj Joseph mengepalai proyek ini di HTIC, kepada DW ia mengatakan bahwa sejumlah faktor, termasuk usia dan gaya hidup, dapat mempengaruhi pembuluh darah seseorang dan kemudian mengganggu fungsi normal jantung. ARTSENS, menurutnya, membantu mengidentifikasi ketidaknormalan pada pembuluh darah sehingga penyakit jantung dapat dicegah melalui diagnosa dan perawatan dini.

Penggunaan sebuah alat pemindai USG berukuran kecil juga menjadi keuntungan lain dari ARTSENS, setidaknya menurut Preejith, seorang desainer elektronik kepada DW.

Alat ini sudah diuji coba pada tiga uji klinis yang berbeda. Hasil tes menunjukkan bahwa mesin buatan India ini sebanding dengan sistem pencitraan yang biasanya digunakan.

Deteksi dini membantu

Dibandingkan mesin pencitraan USG standar, produsen ARTSENS membanggakan betapa ringkas alat buatan mereka dan mudah dibawa kemana-mana. Pembuatan prototipenya memakan biaya sekitar 1.200 Euro, yang tergolong kecil dibandingkan investasi sebesar 20.000 Euro untuk sebuah mesin USG.

Tidak lama lagi alat ini akan siap dilempar ke pasar, ungkap Mohanasankar Sivaprakasam, ketua HTIC, kepada DW.

Tim riset berharap inovasi mereka dapat berguna bagi sektor kesehatan publik India karena memungkinkan pemindaian pasien secara massal. Di negara seperti India, di mana lebih dari 2,5 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung, alat ini akan dianggap sebagai sebuah anugerah.

Laporan Pilihan