1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Lingkungan

Aliansi Eksploitasi Kutub Utara Ancam Ekosistem Peka

Dua tahun setelah bencana cemaran minyak di Teluk Meksiko, perusahaan energi Amerika Serikat dan Rusia, Exxon dan Rosnef jalin kerjasama eksplorasi minyak di kawasan kutub utara.

Kawasan kutub utara diperkirakan menyimpan cadangan sekitar 13 persen cebakan minyak dan sekitar 30 persen cadangan gas bumi yang sejauh ini belum dieksplorasi. Setelah dampak perubahan iklim global mencairkan lapisan es abadi di lautan sekitar kutub, perlombaan diantara perusahaan minyak raksasa untuk mendapat akses ke kawasan yang kaya sumber daya alam itu semakin seru.

Terus naiknya harga minyak bumi, serta keinginan untuk tidak tergantung dari impor minyak, semakin meningkatkan ambisi untuk menemukan sumber energi terbaru. Sebuah ancaman bagi lingkungan yang amat ringkih di kawasan kutub utara. Sebuah kecelakaan pengeboran minyak, akan berarti bencana besar bagi lingkungan sekitarnya.

Sebuah kesepakatan kerjasama antara perusahaan energi AS dan Rusia, Exxon dan Rosnef dapat dicapai lewat perundingan alot selama hampir setahun, setelah pemerintah Rusia menjanjikan kelonggaran dalam pajak energi dan tarif bea cukai.

Pada presentasi kerjasamanya di New York, wakil perdana menteri Rusia, Igor Sechin menyebutkan, kedua perusahaan energi akan menginvesatsikan sekitar 500 milyar Dolar dalam kerjasama itu.

Bohrinsel Troll in der Nordsee

Anjungan pengeboran gas miilik Norwegia.

Ancaman bahaya kecelakaan pengeboran minyak

Namun secara terus menerus perhimpunan pelindung lingkungan memperingatkan ancaman bahaya jika terjadi kecelakaan pengeboran atau transportasi minyak bumi di kawasan dengan ekosistem amat peka itu.

Greenpeace menyebutkan, yang menjadi pecundang dari kesepakatan kerjasama eksploitasi antara Exxon dan Rosnef adalah ekosistem di kawasan kutub utara. "Kecelakaan pengeboran minyak seperti di Teluk Meksiko, akan berdampak jauh lebih buruk", kata pakar perminyakan Greenpeace, Jörg Feddern.

Baru-baru ini dipublikasikan laporan menyangkut penyakit dan cacat bawaan sejak lahir pada beragam ikan dan kepiting di kawasan Teluk Meksiko. Para ilmuwan memperkirakan penyebabnya adalah bahan kimia pengurai lapisan cemaran minyak yang disebar setelah terjadinya kecelakaan. Di Alaska, jejak cemaran minyak masih dapat ditemukan, lebih 20 tahun setelah kecelakaan kapal tanker Exxon Valdez.

Sebuah penelitian yang dilakukan perusahaan asuransi internasional Lloyds, memperingatkan ongkos yang amat tinggi, risiko terhadap lingkungan dan ketidak pastian. Diperlukan pimpinan politik yang kuat, manajemen risiko serta penelitian ilmiah secepatnya, untuk menanggulangi risiko dan tantangan luar biasa itu.

Juga komisi penelitian kutub utara AS, menegaskan pentingnya pengumpulan data lebih lanjut serta pembuatan analisa dampak lingkungan sebelum dilakukan pengeboran minyak.

Infrastruktur kurang memadai

"Pengeboran minyak dan transportasinya di kawasan kutub, merupakan tantangan besar bagi keamanan dan infrastruktur", kata Jörn Harald Andersen konsultan pada Norwegian Clean Seas Association (NOFO), sebuah asosiasi yang membantu pembersihan cemaran minyak di perairan Norwegia.

Dossierbild Frachtschiff Galeriebild 2 von 3

Kapal tanker khusus bagi operasi di kutub utara.

"Kita harus mengangkut sebanyak mungkin peralatan dan pekerja ke kawasan itu. Tidak ada kemungkinan bantuan lokal dan pengiriman logistik jauh lebih sulit dibanding di kawasan lain." kata pakar perminyakan Norwegia itu. Buruknya daya pandang akibat kabut, suhu amat dingin serta amat kurangnya infrastruktur, memainkan peranan besar.

Kelompok pelindung lingkungan seperti WWF, meragukan bahwa industri perminyakan memiliki persiapan mencukupi, untuk menanggulangi kecelakaan minyak di kawasan kutub utara.

"Kawasan kutub utara yang amat luas dan sulit dicapai, akan sangat menyulitkan reaksi jika terjadi kecelakaan pengeboran minyak atau saat pengangkutannya", kata Frida Bengtsson dari Greenpeace Norwegia. Ini merupakan ancaman terbesar langsung terhadap ekosistem kutub utara.

Irene Quaile/Agus Setiawan

Editor : Dyan Kostermans