1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Alasan Teknis, Korut Tunda Peluncuran Roket

Korea Utara menunda peluncuran roket pembawa satelit cuaca dengan alasan teknis. Peluncuran diundur hingga pekan keempat bulan Desember. Ketua KTT ASEAN mengimbau Korut untuk membatalkan peluncuran.

Komisi Teknologi Luar Angkasa Korea menegaskan akan tetap meluncurkan roket meski diwarnai kecaman internasional. "Namun ditemukan masalah teknis pada modul mesin saat roket pembawa satelit tahap pertama dikontrol dan diputuskan untuk memperpanjang periode peluncuran satelit hingga 29 Desember mendatang," demikian laporan kantor berita Korea KCNA.

Awalnya peluncuran roket dijadwalkan antara 10-22 Desember bersamaan dengan perayaan pertama wafatnya mantan penguasa Korea Utara, Kim Jong-il. Juga bertepatan dengan pemilihan umum di dua negara rival Korea Utara, Jepang dan Korea Selatan.

Korea Utara mengemukakan tujuan peluncuran adalah misi damai untuk menaruh satelit cuaca pada orbit. Namun Amerika Serikat menuding peluncuran bertujuan mengembangkan rudal balistik yang mampu menembakkan hulu ledak nuklir hingga sejauh 6.700 kilometer dan mampu menghajar negeri Paman Sam.

ASEAN menentang peluncuran roket

Perdana Menteri Kamboja dan Ketua KTT ASEAN Hun Sen mendesak Korea Utara untuk menghentikan rencana peluncuran roket. Ia menilai rencana tersebut membawa ketegangan dan rasa takut bagi kawasan.

"Atas nama ASEAN, saya mengimbau Korea Utara untuk menunda peluncuran untuk selamanya," tegas Hun Sen dalam pidatonya di radio nasional Kamboja. "Peluncuran ini tidak akan membawa manfaat namun hanya rasa takut ke kawasan dan juga ketegangan.

Hun Sen menilai dirinya 'berhak berbicara' setelah para menteri luar negeri dari 10 negara anggota ASEAN gagal mencapai kesepakatan mengenai rancangan pernyataan bersama menyangkut peluncuran roket Korea Utara pekan lalu.

Resolusi Dewan Keamanan PBB

Korea Utara dilarang menggelar ujicoba rudal atau tes apapun yang berhubungan dengan nuklir menurut resolusi PBB yang mulai berlaku tahun 2006. Resolusi serupa kembali diberlakukan tahun 2009 setelah Korea Utara menggelar ujicoba nuklir. Peluncuran roket ketiga bulan April lalu berakhir dengan kegagalan.

Kantor berita Chosun Ilbo di Korea Selatan melaporkan bahwa Korea Utara tengah memindahkan komponen roket baru ke lokasi ujicoba. Sebuah trailer membawa komponen yang dipercaya sebagai roket tahap ketiga Unha-3 terpantau melalui satelit tengah dibawa dari pabrik rudal di Pyongyang ke lokasi peluncuran di Tongchang-ri.

Roket Unha-3 berdiri tegak di Tongchang-ri tanggal 8 April 2012

Roket Unha-3 berdiri tegak di Tongchang-ri tanggal 8 April 2012

Sulit untuk memverifikasi kejadian di Korea Utara sebagai salah satu negara paling tertutup di dunia yang secara ketat mengontrol berita dan informasi mengenai militer dan kepemimpinan.

Bantuan teknis dari Iran

Dalam laporan terpisah, Chosun Ilbo mengungkapkan bahwa sekelompok ahli rudal Iran tengah berada di Korea Utara untuk memberi bantuan teknis menjelang peluncuran roket.

Awal bulan Desember, kantor berita Kyodo di Jepang mengutip seorang diplomat Barat yang mengatakan Iran menempatkan wakil departemen pertahanan di Korea Utara sejak Oktober lalu untuk memperkuat kerjasama menyangkut rudal dan pengembangan nuklir.

Korea Utara dan Iran sama-sama menjadi subyek sanksi internasional terkait aktivitas nuklir mereka. Kedua pemerintahan juga berbagi kebencian yang mendalam terhadap Amerika Serikat.

Kawat diplomatik Amerika Serikat yang bocor di tahun 2010 menunjukkan kecurigaan Washington bahwa Iran memperoleh komponen rudal balistik dari Korea Utara. Sebuah laporan sanksi PBB tahun 2011 menyatakan kedua negara diduga berbagi teknologi rudal balistik.

CP/EK (afp, dpa, ap, rtr)