1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Al-Azhar Desak Mursi Cabut Dekrit Presiden

6 Desember 2012

Institut Al-Azhar mendesak Presiden Mursi membatalkan dekrit presiden yang memicu kerusuhan di Mesir. Garda Kepresidenan mengultimatum demonstran untuk mengosongkan istana seiring rencana Mursi berpidato di depan publik.

https://p.dw.com/p/16wWT
Foto: Reuters

Krisis politik di Mesir memasuki babak baru setelah instansi Sunni terbesar, Al-Azhar Institute memberikan dukungan terbuka terhadap tuntutan kelompok oposisi. Organisasi yang bermarkas di Kairo tersebut mendesak Presiden Muhammad Mursi untuk menunda pelaksanaan dekrit presiden hingga waktu yang tidak terbatas. Mursi harus membuka jalan bagi dialog tanpa syarat, begitu tulis Al-Azhar.

Presiden Mursi sendiri dilaporkan akan berpidato di depan publik menyusul tawaran kompromi yang diajukan oleh wakilnya. Sebelumnya Wakil Presiden Mahmud Mekki mengusulkan amandemen rancangan konstitusi. Rancangan yang sebagian besar merujuk pada Syariah Islam itu dibuat tanpa melibatkan kelompok oposisi.

Sementara itu Garda Kepresidenan mengultimatum para demonstran untuk mengosongkan area di sekitar Istana Kepresidenan hingga pukul 15:00 waktu setempat (20:00 WIB). Garda yang bertugas melindungi presiden itu juga mengeluarkan larangan demonstrasi untuk kawasan di sekitar Istana dan lembaga pemerintahan yang berada di dekatnya.

Saat berita ini diturunkan situasi di Kairo secara perlahan mulai membaik. Warga mulai menjalani aktivitas keseharian. Kendaraan-kendaraan sipil dan transportasi kota mulai terlihat berseliweran di pusat kota. Kendati begitu massa pendukung Mursi masih berkumpul di kawasan Heliopolis setelah terlibat bentrokan dengan kelompok oposisi rabu (5/12) malam.

Hingga Kamis (6/12) pagi, kubu pendukung dan kelompok oposisi terlibat saling lempar batu dan bom molotov di depan Istana Kepresidenan. Saat ini tiga tank dan tiga kendaraan lapis baja dilaporkan mengamankan pintu masuk istana. Kendaraan tersebut adalah milik Garda Kepresidenan.

Sedikitnya lima orang tewas dalam bentrokan yang terjadi pada Rabu (5/12) malam dan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka. Bentrokan tersebut berlangsung selama beberapa jam di pusat kota Kairo. Kedua kubu yang bertikai dilaporkan beraksi brutal dengan tindak penculikan yang disertai penyiksaan.

Aksi demonstrasi yang digelar kelompok oposisi terhadap Presiden Mursi ini sudah berlangsung sejak beberapa hari. Mursi sebelumnya mengeluarkan dekrit kontroversial yang menjamin kekuasaan tidak terbatas dan berusaha meloloskan rancangan konstitusi yang disusun oleh kelompok konservatif Islam.

Situasi di Kairo saat ini menyerupai kerusuhan menjelang kejatuhan bekas Presiden Husni Mubarak awal tahun 2011 lalu. Saat itu kelompok pendukung dan anti presiden juga terlibat bentrok di lapangan Tahrir di pusat kota Kairo.

Di sejumlah kota besar lainnya di Mesir juga dilaporkan terjadi aksi protes yang berujung pada pembakaran kantor Ikhwanul Muslimin di Ismailia dan Suez. Organisasi muslim terbesar di Mesir tersebut dikenal pendukung setia Presiden Mursi. Sebaliknya di kota Luxor dilaporkan ribuan pendukung Mursi turun ke jalan mendesak pemberlakuan Syariah Islam sebagai konstitusi negara.

rzn/hp (dpa/rtr/afp)