Aksi Protes Iran: Bagaimana Dunia Arab Bereaksi? | dunia | DW | 03.01.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Aksi Protes Iran: Bagaimana Dunia Arab Bereaksi?

Aksi protes jalanan di Iran, yang dipicu oleh kekhawatiran ekonomi dan kenaikan harga, adalah rangkaian aksi terbesar sejak pemilu presiden 2009. Bagaimana reaksi dunia Arab?

Aksi protes di Iran diawali dengan demonstrasi menentang kenaikan harga dan kecemasan tentang situasi ekonomi. Juga protes atas keterlibatan Iran dalam konflik di negara-negara tetangga seperti Suriah. Inilah rangkaian aksi protes yang terbesar sejak pemilu presiden 2009.

Protes itu berawal di kota Marshad, kota kedua terbesar di Iran, lalu meluas ke kota-kota besar lain. Di kota Teheran saja, sekitar 450 demonstran ditahan selama tiga hari terakhir.

Tonton video 01:41
Live
01:41 menit

Jerman dan Inggris Tanggapi Kondisi Iran

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah ali Khamenei menyatakan bahwa aksi protes itu sengaja disulut oleh „musuh-musuh Iran di luar negeri" yang sekarang bergabung dan „menggunakan berbagai cara, termasuk dengan uang, senjata dan dinas intelijen untuk mengganggu Republik Islam".

Presiden Iran Hassan Rouhani menerangkan, dia bisa memahami kekecewaan warga mengenai situasi ekonomi mereka.

Reaksi dunia Arab

Pengamat politik Sanam Vakil dari lembaga tangki pemikir Inggris Chatham House mengatakan, kebanyakan pemerintahan di kawasan Arab mencoba meredam pemberitaan dari Iran. Namun jika protes di Iran terus berlangsung, pemberitaan tidak mungkin diredam lagi. Suriah kemungkinan besar akan mengeluarkan pernyataan dukungan terhadap pemerintah Iran.

Iran Demonstration für die Regierung (Reuters/Tasnim News Agency)

Aksi tandingan pro pemerintah Iran

Di dunia Arab, peran dan pengaruh Iran dalam beberapa tahun terakhir semakin besar. Rezim di Teheran misalnya mendukung rejim Bashar al-Assad di Suriah, milisi Hisbullah di Lebanon dan pemerintahan Syiah di Irak.

Di kawasan Teluk, semua negara Arab kecuali Qatar mendukung para pemrotes. Mereka berharap aksi-aksi protes itu bisa meredam pengaruh dan ambuisi Iran di luar negeri. Arab Saudi berharap gerakan protes itu akan mengguncang rejim pemerintah.

„Tapi negara-negara di kawasan Teluk harus berhati-hati, karena mereka sendiri melarang dan tidak ingin ada gerakan protes semacam itu muncul di negaranya", kata Sanam Vakil.

Qatar dan Turki mengikuti narasi Iran dan menyatakan, aksi-aksi protes disetir dari luar negeri. Stasiun siaran berbahaya Arab Al Jazeera juga mengikuti narasi ini.

Ghassan al Attiyah, direktur Institute for Development and Democracy mengatakan kepada DW, sulit menjaring opini publik di dunia Arab. Karena di kebanyakan negara Arab diberlakukan sensor atau medianya dikendalikan oleh pemerintah.

Iran, Tehran, Ayatollah Ali Khamanei (picture-alliance)

Pimpinan Tertinggi Republik Islam Iran: Ayatollah Ali Khamenei

Tergantung respons pemerintah

Pemerintah Iran kemungkinan akan berhasil menekan dan meredam aksi-aksi protes aktual. Namun jika masalah-masalah mendasar yang menyulut protes tersebut tidak diselesaikan, maka protes spontan semacam itu akan makin sering terjadi.

„Semuanya sekarang tergantung pada respons pemerintah. Jika pemerintah membungkam protes dengan cara yang sangat represif, mungkin kita akan melihat kesunyian di Iran dalam beberapa tahun ke depan", kata Sanam Vakil.

Namun dia mengingatkan, para pemrotes yang sekarang turun ke jalan dulunya adalah pendukung pemerintah yang kemudian berbalik menentangnya. Bentuk perlawanan seperti ini, kata dia, mungkin bisa ditekan sementara waktu, tapi tidak pernah benar-benar hilang.

 

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait