1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Akses Atas Alat Kontrasepsi Bisa Tingkatkan Kehidupan Seksual

Pasangan menikah di negara-negara miskin dan berkembang yang punya akses atas alat kotrasepsi, bisa lebih sering mendapat kepuasan dalam hubungan seksual.

Hasil riset yang dipaparkan pada Konferensi Internasional tentang Keluarga Berencana di Nusa Dua, Indonesia, tim peneliti dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health (JHSPH) mengatakan, bahwa perempuan usia subur dalam pernikahan yang menggunakan alat kontrasepsi tiga kali lebih mungkin punya hubungan seksual yang rutin, daripada perempuan yang tidak menggunakan kontrasepsi.

"Kami ingin agar perempuan memiliki kehidupan seks yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih aman, yaitu dengan memisahkan seks dari kehamilan dan kelahiran anak. Alat kontrasepsi bisa membantu," kata Suzanne Bell MPH, pemimpin riset dari Johns Hopkins Bloomberg School.

"Mengetahui seberapa sering perempuan melakukan kegiatan seks - dan apa peran alat kontrasepsi dalam hal itu, dapat memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana memenuhi tujuan keluarga berencana." Lanjut Bell

Analisa Survei Demografi

Untuk studinya, Bell dan rekannya David Bishai, MD, PhD, profesor di Bloomberg School, menganalisa hasil Survei Demografi dan Kesehatan yang dilaksanakan tahun 2005 pada lebih dari 210.000 perempuan usia subur di 47 negara.

Symbolbild Sexualität Verhütung Pille

Akses atas alat kontrasepsi berpengaruh pada frekuensi hubungan seks pasangan muda

Pertanyaan yang diajukan antara lain, apakah mereka pernah melakukan hubungan seksual selama empat minggu sebelumnya, dan apakah mereka menggunakan alat kontrasepsi.

Dari perempuan yang sedang menggunakan alat kontrasepsi, 90 persen melaporkan melakukan hubungan seks dalam empat minggu terakhir. Sedangkan perempuan yang tidak menggunakan kontrasepsi, hanya 72 persen menyatakan berhubungan seks dalam empat minggu terakhir.

Mereka yang paling mungkin sering melakukan hubungan seks dengan pasangannya adalah perempuan antara usia 20 dan 29, perempuan dengan pendidikan lebih tinggi, dan mereka yang ingin memiliki anak dalam dua tahun ke depan.

Masih ada kendala dan misinformasi

Suzanne Bell juga mengatakan, frekuensi hubungan seks meningkat, dengan meningkatnya akses terhadap alat kontrasepsi. Tapi diakui masih banyak perempuan juga yang memiliki hambatan menggunakannya.

Symbolbild Schwangerschaft

Banyak pasangan muda yang telah menikah ingin mencegah kehamilan

Alasannya antara lain karena tidak punya akses kepada alat kotrasepsi. Atau kekhawatiran tentang efek samping yang bisa berdampak pada kesehatan. Menurut para peneliti, sering juga ada informasi salah tentang dampak samping alat kontrasepsi. Banyak perempuan misalnya percaya, alat kontrasepsi dapat menyebabkan kanker atau kemandulan

Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa beberapa perempuan yang tidak dapat atau tidak ingin menggunakan alat kontrasepsi kemudian mereduksi frekuensi hubungan seks untuk mengurangi risiko kehamilan. Tetapi banyak juga perempuan yang melaporkan, mereka tidak menggunakan kontrasepsi karena mereka memang jarang berhubungan seks, bukan sebaliknya.

Bicarakan seks lebih terbuka

Bell mengatakan bahwa sebelum kontrasepsi modern digunakan secara luas di Eropa dan Amerika Serikat, pasangan-pasangan yang menikah sudah berusaha menurunkan resiko kehamilan dengan cara-cara tradisional.

NuvaRing Verhütungsmittel

Penerangkan seksual dan penggunaan alat kontrasepsi di Mozambik, Afrika

"Kita perlu menempatkan seks dalam percakapan tentang keluarga berencana untuk memahami faktor-faktor apa yang memengaruhi keputusan seorang perempuan untuk menggunakan alat kontrasepsi atau tidak," kata Bell.

Konferensi Internasional Keluarga Berencana 2016 di Nusa Dua, Bali, dibuka Presiden Joko Widodo hari Senin, 25 Januari lalu dan berlangsung selama empat hari.

Dalam pidato pembukaannya Jokowi menekankan, menghadapi tantangan kehidupan yang semakin berat dan permasalahan kompleks diperlukan kualitas hidup yang baik. Hal itu akan dimulai dari ibu yang sehat yang akan melahirkan anak yang sehat, sehingga dapat melahirkan generasi yang sehat, berkualitas serta berbudi luhur.

Selanjutnya Preiden mengatakan, pelaksanaan program keluarga berencana memberi manfaat besar bagi terbentuknya generasi muda yang berkualitas yang pada gilirannya akan mendorong terwujudnya tujuan pembangunan dan membawa kemakmuran dan kesejahtetaan dunia.

hp (rtr, www.jhsph.edu)

Laporan Pilihan