1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Akankah Era Berlusconi di Italia Berakhir?

15 Juni 2011

Skandal seks, ketidakstabilan kepemimpinan dan ketidakmampuan pemerintahnya mencapai hasil yang dibutuhkan untuk reformasi ekonomi, menyebabkan popularitas PM Italia jatuh. Ini jelas terlihat pada hasil referendum.

https://p.dw.com/p/11amX
PM Italia Silvio BerlusconiFoto: dapd

Harian konservatif Italia Corriere della Sera menulis tentang referendum di Italia dan dampaknya bagi pemerintah :

"Ini adalah referendum melawan Perdana Menteri Silvio Berlusconi. Dan kekalahan pemerintahnya sangat jelas dan menyakitkan. Ditambah lagi, Berlusconi dan pemerintahannya seperti tidak belajar dari pemilihan komunal. Dalam kampanye referendum pun mereka tidak mampu memobilisasi perlawanan terhadap oposisi. Tidak ada yang tahu menjelang berakhirnya era Berlusconi siapa yang akan tampil sebagai penerusnya dari kubu tengah-kanan. Satu hal yang pasti. Siapa pun yang menggantikannya, harus menunjukkan kepada pemilih yang kecewa, bahwa ia telah belajar dari kesalahan. Yakni, mengurangi jarak antara bicara dan tindakan."

Harian konservatif Norwegia Aftenposten yang terbit di Oslo juga mengomentari kekalahan Berlusconi dalam referendum akhir pekan lalu :

"Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi mengalami kekalahan menyakitkan dalam referendum. Tema yang dipermasalahkan adalah pembangkit energi atom, privatisasi perusahaan air, dan kewajiban menteri untuk hadir dalam pengadilan. Hasilnya seperti membuktikan tendensi jangka panjang yang menunjukkan rontoknya dukungan pemilih bagi Berlusconi. Kita memandangnya sebagai pertanda sehatnya demokrasi Italia. Negara ini cukup lama memiliki kepala pemerintah yang lebih menganggap dirinya sebagai pemilik yang tidak bisa disentuh dan bukan sebagai pimpinan politik yang tunduk pada peraturan etik dan hukum sama seperti semua warga."

Harian konservatif Le Figaro yang terbit di Paris mengatakan warga Italia sudah muak dengan Berlusconi :

"Di usia 74 tahun, Silvio Berlusconi telah kehilangan kemampuan merayunya. Setelah warga Italia bersabar dengan sikap pria yang berkuasa selama delapan tahun ini, akhirnya mereka tidak mau lagi menerima berita skandal seksnya dan mulai merasakan sikap pemerintah yang tidak tenang. Khususnya di bidang keuangan. Masalah Italia adalah pemerintah tidak mau bekerja sama dengan oposisi. Mereka masih terbelah. Jika pemilih mengabaikan kepala pemerintahannya, mereka tidak akan bergerak hanya di belakang seorang pria atau sebuah ide belaka."

Masalah politik dalam negeri Italia dan perdana menteri Silvio Berlusconi dikomentari oleh harian konservatif Die Presse yang terbit di Wina Austria :

"Kekalahan dalam referendum adalah tamparan berikutnya setelah kekalahan dalam pemilihan regional yang harus diterima partai pemerintah. Perekonomian Italia mandeg, hutang terus bertambah. Rasa tidak puas terdengar dari berbagai kalangan. Pihak oposisi mulai melirik peluang. Namun, justru referendum terakhir menunjukkan, bahwa warga Italia terutama aktif secara politis, jika mereka merasa terkait dengan tema yang ada. Mereka tidak bosan dengan politik, tetapi lelah terhadap sebuah sistem yang yang dijalankan politisi yang sama selama 20 tahun."

Terakhir, harian Tages-Anzeiger dari Zurich yang juga mengulas tentang hasil referendum di Italia :

"Silvio Berlusconi telah kehilangan pamornya. Sejak lama ia dianggap sebagai juru kampanye paling hebat. Namun, mayoritas warga Italia tidak mau lagi mendengar skandal Berlusconi dan politiknya. Mereka ingin pemerintah yang menjalankan reformasi penting dan memajukan bidang keuangan. Legitimasinya untuk mewakili mayoritas warga kini melemah. Minggu-minggu mendatang akan menunjukkan, apakah Berlusconi masih bisa berhasil mempertahankan mayoritas parlemen. Saat ini yang tampak adalah, akhir dini era Berlusconi bukan lagi masalah apakah akan terjadi, melainkan kapan akan terjadi."

Vidi Legowo-Zipperer / afp / dpa

Editor : Agus Setiawan