1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Akankah Donald Trump Terjungkal karena Isu Imigran?

Calon kandidat presiden Partai Republik Donald Trump kembali menegaskan rencananya untuk mendeportasi jutaan imigran ilegal. Isu ini dikecam oleh berbagai pihak, termasuk para saingannya dalam adu debat terakhir.

"Kita akan memiliki tembok. Tembok akan dibangun. Tembok akan sukses," ujar Donald Trump, kandidat calon presiden AS Partai Republik tentang janjinya untuk membangun tembok pembatas di wilayah selatan perbatasan Amerika Serikat dengan Meksiko.

Saat ditanya moderator adu debat Partai Republik, GOP, apakah ia akan mendeportasi lima juta imigran, Trump mengatakan, "Kita harus mengeluarkan orang." Tapi Trump menolak untuk menjelaskan dampak deportasi massal terhadap perekonomian Amerika Serikat.

Kedua pesaing Trump, mantan gubernur Florida Jeb Bush and Gubernur Ohio John Kasich mengecam rencana miliarder tersebut.

"12 juta imigran ilegal. Untuk mendeportasi mereka - 500.000 per bulan, tidaklah mungkin. Ini bukan cara menjunjung nilai-nilai Amerika. Ini hanya akan memecah masyarakat dan mengirim sinyal bahwa Amerika bukanlah negara seperti yang saya kenal," tegas Bush.

Bush menambahkan, pernyataan Trump hanya memperkuat posisi kandidat calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.

"Ini masalahnya. Kami harus memenangkan kursi presiden. Cara untuk menang adalah dengan rencana yang bisa dipraktekkan," ujar Bush dalam au debat GOP di Milwaukee. Ia juga mengatakan, para asisten Clinton kini tengan melakukan "high five" setelah mendengar omongan Trump.

Ini dibenarkan oleh juru bicara Clinton, Brian Fallon.

Trump sebelumnya telah dikritik karena menyebut imigran Hispanik sebagai kriminal dan "pemerkosa".

"Mereka mendatangkan orang dengan banyak masalah. Mereka membawa narkoba. Mereka membawa kejahatan. Mereka pemerkosa. Mungkin beberapa diantaranya adalah orang baik," kata Trump saat itu.

Ia juga mengatakan akan mendeportasi pengungsi Suriah karena khawatir mereka adalah bagian dari kelompok militan "Islamic State".

vlz/yf (Reuters, AFP)

Laporan Pilihan