1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

AIDS, Penyakit Yang Ditutup-tutupi di Cina

Selama bertahun-tahun AIDS merupakan tema tabu di Cina. Sampai sekarang, orang yang hidup dengan HIV/AIDS atau ODHA masih didiskriminasi. Salah satu penyebab utama tersebarnya HIV/AIDS di Cina masih ditutup-tutupi

default

Seorang anak penderita AIDS di Cina, yang tertular virus HIV melalui transfusi darah yang dilakukan ibunya pada masa kehamilan

Tahun 2008 lalu, jumlah korban yang meninggal karena AIDS lebih banyak daripada korban TBC dan Hepatitis. Menurut Kementerian Kesehatan Cina, jumlah pasien yang mengidap virus HIV mencapai 270.000 orang. Meski pemerintah Cina dan PBB memperkirakan angka sebenarnya adalah 700.000 orang.

Sejak Sun Meiling mengetahui bahwa ia mengidap virus HIV, ia memperjuangkan agar dirinya dan ODHA lainnya mendapatkan perawatan yang adil.

"Saya tahu bahwa saya HIV positif sejak 2002. Penyebabnya transfusi darah di tahun 1995. Saya baru tahu setelah tujuh setengah tahun. Saya lalu berencana mengajukan kasus ini ke pengadilan. Tapi dokter dan keluarga saya menolaknya, mereka tidak ingin orang lain tahu saya terinfeksi. Tapi saya yakin, saya hanya bisa bertahan hidup dengan mengajukan kasus ini ke pengadilan. Hampir semua pengidap HIV di provinsi Henan terinfeksi akibat transfusi darah. Tapi mesin propaganda hanya menyoroti seks dan narkoba. Kami didiskriminasi. Padahal pemerintah tahu bagaimana HIV menyebar di provinsi kami," kisah Sun Meiling.

Henan adalah provinsi dengan ODHA terbanyak ketiga di Cina. Provinsi ini miskin dan padat penduduk. Di tahun 90an, sejumlah petani berupaya menambah penghasilannya dengan menjual darahnya. Suntikan yang digunakan untuk mengambil darah terkontaminasi, tapi bank darah sama sekali tidak peduli. Skandal ini ditutup-tutupi karena kader Partai Komunis di Henan bersekongkol dengan para pedagang dan dokter yang korup.

Tenaga medis yang berusaha membantu para petani malah diburu oleh pihak berwenang setempat. Setahun lalu, wartawan yang mencoba mewawancarai korban juga diintimidasi. Seorang aktivis yang berusia 47 tahun mengatakan: "Masyarakat Cina tidak tahu banyak tentang AIDS. Mereka berpikir bahwa penyakit ini tidak ada kaitannya dengan hidup mereka. Kami berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa mereka hidup berdampingan dengan AIDS. Kami membagikan kondom dan selebaran informasi di bar, rumah permandian dan juga tempat-tempat yang biasa dikunjungi kaum gay."

Awal tahun 90an di Cina mulai muncul papan informasi mengenai HIV. Tahun 2003 diluncurkan kampanye penerangan besar-besaran. Tapi jajak pendapat yang dilakukan Universitas Nasional Beijing dan PBB tahun 2008 lalu menemukan bahwa dari 6.000 warga yang ditanya hampir separuhnya percaya bahwa mereka dapat terinfeksi HIV karena gigitan nyamuk. 18 persen yakin bahwa bersin atau batuk sudah cukup untuk menularkan penyakit AIDS. Sebuah surat kabar baru-baru ini melakukan jajak pendapat di Shanghai. 24 dari dari 30 orang mendukung agar ODHA diisolasi dari penduduk lainnya.

Bagi Sun Meiling, angka-angka ini sungguh mengejutkan. "Saya menunggu hari, di saat semua prasangka terhadap penderita AIDS hilang, dan orang-orang memperlakukan kami dengan normal. Tentu tidak ada lagi yang protes di antara kami. Sekarang ini kami tidak punya pilihan. Kami ditindas selama bertahun-tahun."

Awalnya, gugatan Sun Meiling tampak membuahkan hasil. Tapi setelah ia dua kali diwawancara televisi nasional, pengadilan tertinggi Cina memutuskan untuk menolak kasusnya. Korban lainnya mengalami hal sama. Baru sejak Oktober 2009 semua asuransi diwajibkan untuk juga menerima pengidap HIV. Tapi para pakar tak percaya bahwa peraturan baru ini akan dipatuhi.

Astrid Freyeisen/Ziphora Robina
Editor: Yuniman Farid