1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

AI Kritik Diskriminasi terhadap Muslim

Organisasi hak asasi manusia Amnesty International (AI) berpendapat bahwa umat Islam di beberapa negara Eropa sering dirugikan di tempat kerja atau sekolah.

Jilbab, jenggot, menara mesjid – sesuatu yang berhubungan dengan penampilan umat Islam biasanya sulit diterima di muka umum di beberapa negara di Eropa. Juga di banyak tempat hak asasi mereka dibatasi, dikatakan Amnesty International. Laporan yang dipublikasikan hari Selasa (24/04) ini membeberkan situasi Muslim di Belgia, Perancis, Belanda, Spanyol dan Swiss. Di dalamnya tertulis contoh diskriminasi karana alasan agama atau kepercayaan serta dampak pada kehidupan umat Islam.

Larangan Burqa Dikritik

AI antara lain mengkritik pelarangan pemakian jilbab dan burqa di beberapa negara, “Pemakaian simbol agama dan budaya merupakan bagian dari hak kebebasan berbicara dan kebebasan beragama,“ ditekankan Marco Perolini, pakar masalah diskriminasi dari Amnesty International.

Dalam dekade terakhir kelima negara yang diteliti menerapkan larangan pemakaian jilbab di sekolah. AI juga mengkritik kenyataan bahwa banyak perusahaan diizinkan untuk melarang pekerja memakai simbol-simbol keagamaan. “Ini jelas pelanggaran terhadap hukum Uni Eropa – kecuali, aturan ini terkait dengan jenis profesi.“

Bangunan Umat Islam

Amnesty juga mengkritik larangan pembangunan menara mesjid di Swiss dan pembatasan mesjid di Spanyol. Praktek seperti ini dapat memicu kebencian terhadap Islam. “Umat Islam dianggap bertanggungjawab atas apa yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara,“ dinyatakan Amnesty mengutip perkataan seorang Muslim di Swiss. “Orang-orang memaki saya di jalanan dan berkomentar tidak menyenangkan. Seorang pria berteriak, saya harus melepas sprei yang saya kenakan di kepala saya.“

AI menyerukan kepada pemerintah negara Eropa untuk tidak mengeluarkan pembatasan, seperti larangan jilbab dan untuk memberikan kemungkinan untuk menjalani agama secara bebas. “Di banyak negara Eropa terdapat pandangan umum, bahwa Islam dapat diterima selama umat Islam tidak begitu terlihat,“ dikeluhkan Marco Perolini. Politisi tidak memiliki kewajiban untuk menentang praktek atau tradisi keagamaan seseorang. Karena: “Pemakaian simbol agama dan budaya merupakan bagian dari hak asasi manusia untuk berekspresi secara bebas.“

Yuniman Farid (afp/dpa)

Editor: Andy Budiman

Laporan Pilihan