1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Afghanistan: Impian Yang Mulai Sirna?

Sembilan tahun setelah 9/11, apa yang tersisa dari harapan warga Afghanistan untuk kehidupan yang lebih baik setelah digulingkannya Taliban.

default

Sebuah pojok kota Kabul

Bagi kaum Taliban, 11 September 2001 merupakan hari gembira. Aparat propagandanya dengan cepat menyebarkan berita mengenai negara yang mereka sebut „musuh Islam yang terbesar“. Dikatakannya, Amerika Serikat telah dihukum oleh Tuhan.

Setelah pasukan AS pertama kali menyerang Afghanistan, reaksi Taliban adalah menghukum warganya sendiri. Atiqullah, yang tinggal di Kabul dan ketika itu berusia 20 tahun masih ingat. Ia menuturkan, "Hari-hari terakhir kekuasaan Taliban betul-betul mengerikan. Mereka menembaki orang-orang secara semena-mena. Tanpa proses pengadilan, hanya atas dasar tuduhan yang tak masuk akal. Saya menyaksikan begitu banyak orang yang ditembak di jalanan..“

Akhir 2001, intervensi militer Amerika Serikat berhasil menggulingkan pemerintahan Taliban. Pemerintah baru di Kabul dan sekutu internasionalnya menjanjikan banyak hal kepada warga Afghanistan. Yang paling utama adalah keamanan, kehidupan yang layak dan demokrasi. Semuanya konsep yang tak dikenal oleh hampir seluruh generasi muda Afghanistan ketika itu.

Afghanistan Kabul Anschlag Mädchenschule

Serangan terhadap murid-murid perempuan di ibukota

Kata-kata itu juga menyulut harapan serta keberanian untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Namun menurut Mukhtar yang berusia 25 tahun, sampai saat inipun ia masih menunggu terpenuhinya janji-janji itu. Mukhtar mengatakan, "Tentu saja, situasi ekonomi di Afghanistan sekarang lebih baik daripada 10 tahun lalu. Tapi bagi banyak orang tak ada perubahan dalam hidupnya. Kenapa semua janji yang dulu dibuat itu, tidak sedikitpun terpenuhi. Di Kabul saja, orang-orang tidak bisa merasa aman, apalagi di kota dan tempat lain.“

Sembilan tahun setelah serangan 11 September, Afghanistan masih hanya bisa bermimpi tentang keamanan, kehidupan yang layak dan demokrasi. Taliban yang dulu dianggap sudah kalah, sejak 2006 kembali menguat. Kini banyak warga Afghanistan yang hanya memiliki satu angan-angan: agar di negaranya peperangan berakhir.

Yang masih berbicara mengenai kehidupan layak serta demokrasi hanya segelintir orang saja. Mengingat Afghanistan belum keluar dari keterpurukan, pakar politik di Universitas Kabul Faruq Bashar cemas bahwa rakyat akan berbalik, tak lagi mendukung pemerintahan Hamid Karsai dan sekutu internasionalnya.

"Saya lihat, rasa kecewa yang terus bertambah besar. Orang-orang kehilangan rasa percaya bahwa pemerintah dan pasukan internasional bisa menyelesaikan soal keamanan. Mereka tak bisa menjawab, kenapa begitu banyak negara tak bisa mengatasi masalah keamanan Afghanistan?“, begitu dipaparkan Faruq Bashar.

Yang terdengar memberikan jawaban hanyalah kaum Taliban. Menurut propagandanya, masyarakat internasional tak punya kepentingan untuk memperbaiki kehidupan rakyat Afghanistan. Di setiap penjuru, Taliban tampil sebagai pemimpin masa depan Afghanistan, yang nanti akan bekerja untuk pemerintah. Di sejumlah kawasan timur dan selatan Afghanistan, Taliban sudah memiliki hakim dan pejabat pemerintahnya sendiri.

Militärausrüstung von Taliban Afghanistan

Perlengkapan senjata Taliban yang disita

Muhammad Hamed, seorang pekerja harian dari kawasan utara Afghanistan, menilai Taliban tak akan puas hanya dengan kawasan perbatasan Pakistan. Tegasnya, "Setiap tahun situasi keamanan memburuk. Ada beberapa propinsi yang saya tahu dikuasai Taliban. Di Utara, mereka juga bertambah kuat dari hari ke hari.“

Hamed membayangkan yang terburuk. Ia menduga, Afghanistan masih akan mengalami perang saudara selama beberapa tahun. Ia dan teman-temannya, tengah mencari senapan Kalashnikov Rusia, agar dapat melindungi keluarganya dalam situasi genting. Karena menurut dia, tak mungkin hanya mengandalkan pasukan pemerintah atau pasukan internasional.

Ratbil Shamil / Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk