1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Afghanistan Hadapi Jalan Buntu?

Bantuan uang dari negara donor Afghanistan dikhawatirkan macet, gara-gara NGO dan organisasi internasional terus bertikai. Opini Florian Weigand.

Neraca dari konferensi internasional Afghanistan yang digelar di London amat buruk. Negara ini, hingga 90 persennya tetap tergantung bantuan uang dari luar. Sementara korupsi, kriminalitas dan kekerasan politik tetap menjadi sinonim internasional untuk situasi di Afghanistan.

Misi NATO yang menelan banyak uang akan berakhir tiga pekan lagi. Di saat pasukan NATO mengepak semua perlengkapan logistik dan persenjataan, dengan pikiran yang sudah membayangkan Natal dan tahun baru di rumah, gelombang aksi kekerasan baru melanda Afghanistan. Apakah misi keamanan dan milyaran Dolar uang bantuan bagi negara itu sia-sia belaka?

Sebetulnya tidak semua progam gagal. banyak sekolah dibangun. Dan pendidikan, terutama bagi anak perempuan membaik. Kehidupan media makin marak, internet dan smartphone membuka Afghanistan ke dunia internasional. Rakyatnya juga menunjukan, mereka bisa dan berniat hidup di alam demokrasi. Buktinya keikutsertaan dalam pemilu presiden yang cukup besar.

Deutsche Welle REGIONEN Asien Paschtu Dari Florian Weigand

Florian Weigand pimpinan redaksi Afghanistan DW.

Akan tetapi, donor internasional kelihatannya sudah lesu. Tidak ada janji bantuan baru dalam konferensi di London. Pemerintah barat memang masih memberikan bantuan uang. Namun lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang kasat mata, yang bisa dilihat pembayar pajak di negaranya. Ketimbang membiayai hal abstrak berupa pengembangan masyarakat sipil dan demokratisasi.

Situasi seperti ini tidak akan berubah, jika NGO dan organisasi bantuan Afghanistan tetap cakar-cakaran menggenjot proyek masing-masing, tanpa ada strategi bersama yang bisa meyakinkan para donor. Strategi semecam ini sangat dibutuhkan, lebih dari sekedar kucuran dana bantuan baru.

Konferensi London tidak menunjukkan kemajuan signifikan. Padahal bagi keberhasilan pembangunan masyarakat sipil yang mantap, semua tergantung dari keberadaan para intelektual dan media yang bebas yang mau tetap tinggal di Afghanistan yang setiap hari diguncang kekerasan berdarah. Ada intelektual yang ingin kembali atau tetap tinggal di Afghanistan, karena mereka punya argumen "inilah negara saya".