1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Adu Kekuatan Masih Berlangsung di Mesir

3 Februari 2011

Hari Kamis (03/02) di pusat ibukota Mesir Kairo juga terjadi kerusuhan hebat. Penentang dan pendukung Presiden Husni Mubarak kembali terlibat bentrokan jalanan dan saling melempar batu di Lapangan Tahrir.

https://p.dw.com/p/10AQT
Demonstran yang berlarian di Lapangan Tahrir pada hari kedua bentrokan kubu pro dan anti MubarakFoto: picture-alliance/dpa

Kelompok pendukung Presiden Husni Mubarak menyerang dari pinggir-pinggir jalan, melempari demonstran anti pemerintah dengan batu dan menyerang mobil-mobil. „Kalian yang berada di Lapangan Tahrir menjadi penyebab mengapa kami tidak dapat melakukan kehidupan normal!“ Demikian teriakan salah seorang pendukung Mubarak.

Kelompok penentang Mubarak menempatkan diri di atap dan balkon bangunan untuk memperingatkan para demonstran dari serbuan kelompok pendukung Mubarak.

Setelah bentrokan senjata di Kairo Kamis (03/02) siang, sedikitnya tiga orang tewas. Sementara dari berbagai kawasan ibukota Kairo dan daerah di sekitarnya dilaporkan terjadi kebakaran.

Akibat meningkatnya tekanan dari dalam dan luar negeri militer Mesir yang beberapa hari tidak mengambil tindakan, untuk pertama kalinya menengahi pertempuran antara kubu pendukung dan penentang Mubarak. Kamis kemarin militer membentuk barikade antara kedua kubu di Lapangan Tahrir di Kairo.

Sementara pemerintahan yang baru dibentuk Mubarak meminta maaf atas eskalasi kekerasan dengan korban tewas dan luka-luka, tapi tidak menyatakan bertanggung jawab untuk itu. Perdana Menteri Mesir yang baru Ahmad Shafik menyampaikan

"Saya berjanji bahwa penyelidikan ini akan berlangsung secara terbuka untuk melihat apakah insiden itu direncanakan, apakah itu direncanakan seseorang dan jika ya, oleh siapa. Semua pihak yang bertanggung jawab akan segera mendapat hukuman.“

Juga di tingkat politik belum terlihat tanda-tanda berakhirnya adu kekuasaan antara pemerintah dan oposisi. Untuk pertama kalinya Wakil Presiden Mesir Omar Suleiman mengundang gerakan oposisi terbesar Mesir Ikhwanul Muslimin untuk berdialog. Sebagai syarat untuk berdialog pemimpin kelompok oposisi itu, juga kekuatan oposisi lainnya antara lain pemenang hadiah Nobel Perdamaian Mohammed El Baradei meminta pengunduran diri segera Mubarak. Namun Suleiman mendesak oposisi untuk melakukan persiapan pemilihan pengganti Mubarak bulan Agustus atau September mendatang. Wakil Presiden Mesir itu menutup kemungkinan mundurnya Mubarak sebelum akhir masa jabatannya September mendatang. Permintaan mundurnya presiden adalah seruan untuk kekacauan. Dijelaskan Suleiman dalam wawancara dengan stasiun televisi nasional di Kairo.

Ikhwanul Muslimin dan pihak oposisi lainnya menolak tawaran perundingan pimpinan pemerintah tersebut.

Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan agar pemerintah Mesir menghentikan serangan terhadap demonstran. Harus dimulai awal baru, jika tidak masyarakat tidak akan puas. Demikian kata Merkel saat kunjungannya di Madrid. Sebelumnya Jerman, Perancis, Inggris, Italia dan Spanyol menyampaikan seruan bersama agar segera dibentuk tatanan baru hubungan kekuasaan di Mesir, seperti yang sebelumnya diminta Amerika Serikat.

Sementara itu Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam National Prayer Breakfast, acara tradisi tahunan yang diselenggarakan bagi presiden, para pemimpin politik dan pejabat tinggi lainnya serta tokoh-tokoh agama, mendoakan korban kerusuhan di Mesir

"Kami berdoa agar kerusuhan di Mesir berakhir dan hak-hak serta aspirasi warga Mesir dapat direalisasi, dan agar hari lebih cerah akan bersinar di Mesir dan di seluruh dunia.“

Sementara itu melaporkan situasi di Mesir semakin berbahaya bagi para jurnalis. Dalam tugas liputannya jurnalis asing terjebak dalam dua kubu yang terlibat bentrokan, diburu, diserang dan ditangkap semena-mena. Akibat luka-lukanya sejumlah jurnalis bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit. Rezim Mubarak menuduh pemberitaan media asing sebagai penyebab kerusuhan di Mesir.

Dyan Kostermans/dpa/AFP/Rtr/DW

Editor: Christa Saloh