Abu Anas al-Libi dan Jaringan Teror Libya | dunia | DW | 08.10.2013
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Abu Anas al-Libi dan Jaringan Teror Libya

Abu Anas al-Libi yang ditangkap lewat serangan berani Amerika, pernah menjadi bagian lingkaran dalam Osama bin Laden, kelihatannya hanya punya kaitan kecil dengan generasi baru jihad di Libya.

Para Islamis yang terinspirasi perang yang dikobarkan Al-Qaeda atas Barat kini berkembang di Libya yang kacau, setelah tergulinya Kadhafi, tapi hanya ada ketertarikan kecil atas kelompok yang didirikan bin Laden tahun 1990-an itu.

Tapi dalam ukuran operasi terbatas, para militan muda kini mengibarkan bendera hitam Islam radikal di zona perang, mulai dari Mali hingga Suriah, sementara Libi tampaknya menjalani kehidupan pensiun yang tenang di Tripoli, dengan sedikit keterlibatan dalam kelompok jihad negara itu yang sedang berkembang.

Kisah hidupnya bisa dilacak dari penelusuran perjalanan panjang Al-Qaeda dan pertumbuhannya dari kelompok kecil orang yang sakit hati di pembuangan, menjadi sebuah ideologi yang dimanfaatkan oleh para militan yang terkurung dalam konflik di seluruh dunia Muslim.

Diburu Kadhafi

Seperti banyak jihadi Libya lainnya, Abu Anas al-Libi – yang nama aslinya adalah Nazih Abdul Hamed al-Raghie – diburu keluar dari negaranya selama penumpasan brutal Moamar Kadhafi atas kelompok Islamis pada era 1990an.

Bildergalerie UN Gaddafi zerreisst die UN Charta

Tahun 1990an, diktator Muamar Kadhafi memburu para Islamis dan memaksa mereka lari meninggalkan Libya

Ahli komputer itu disambut dengan tangan terbuka oleh kelompok bin Laden yang ketika itu baru didirikan, dan kemudian berbasis di Sudan, dan menurut surat dakwaan AS telah membantu Al-Qaeda merencanakan serangan besar pertama mereka yakni pemboman kedutaan Amerika di Kenya dan Tanzania, yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Setelah lebih dari satu dekade dalam pelarian, Libi dan bekas operator Al-Qaeda lainnya kembali ke Libya setelah pemberontakan 2011 yang menjatuhkan rezim Khadafi.

Sebagai veteran konflik Afghanistan dan sejumlah tempat lainnya, mereka membangun reputasi diantara generasi pemberontak Islamis yang lebih muda, mendirikan sejumlah kamp jihad dan merekrut jihadi baru.

Beberapa kamp pelatihan masih beroperasi yang ditujukan bagi orang Libya dan pendatang yang berharap bisa bergabung dalam perang Suriah, kata seorang diplomat dari timur Benghazi yang tidak bersedia diungkapkan identitasnya.

Masih banyak analis percaya bahwa milisi Islamis Libya beroperasi secara mandiri, menolak beraliansi secara formal dengan Al-Qaeda karena melihat diri mereka lebih kuat dari kelompok itu.

Selanjutnya

Laporan Pilihan