1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Jelajah Jerman

9 November 1989: Hari Tak Terlupakan

Tanggal 9 November 1989 memiliki makna yang besar bukan saja bagi warga Jerman, tapi juga bagi Eropa. Demikian pendapat Alexander Kudascheff.

9 November 1989 adalah hari istimewa yang penuh peristiwa. Mulai dari formulasi kalimat yang kurang menguntungkan dari segi birokratis, yaitu: mulai sekarang berlaku kebebasan melakukan perjalanan, yang disampaikan menjelang malam, sampai dirobohkannya tembok Berlin pada malam hari dan menjelang dini hari. Dalam beberapa jam saja, hidup warga Jerman dan Eropa berubah. Sejarah baru mulai ditulis.

DDR atau Jerman Timur, yang diperintah dengan sistem komunis, tumbang di bawah tekanan demonstrasi dan warga yang melarikan diri. Runtuhnya tembok Berlin adalah akhir masa DDR, walaupun persatuan Jerman baru direalisasikan setahun kemudian. DDR yang tanpa tembok dan kawat berduri, yang tidak membiarkan warganya bepergian ke negara lain, tidak punya kekuatan untuk tetap eksis, kecuali keanggotaannya di Blok Timur dan dalam Pakta Warsawa.

Tetapi Uni Sovyet, dengan pemimpinnya yang pro reformasi Gorbatchev, memilih untuk tidak mengambil langkah kekerasan, seperti halnya pemerintah di Berlin Timur. "Solusi seperti di Cina," yaitu pembantaian di Lapangan Tiananmen di Beijing tidak terjadi. Tanggal 9 November 1989 gerakan pembebasan tidak dipukul mundur secara brutal lagi seperti 1953 di DDR, 1956 di Hongaria, dan 1968 di Cekoslovakia. Runtuhnya tembok Berlin menyempurnakan revolusi damai di Jerman Timur.

9 November adalah sebuah hari dan sebuah malam yang membahagiakan dan penuh air mata. Ini hari yang menyentuh warga Jerman secara emosional. Ini hari yang membangkitkan kenangan dan perasaan yang hampir terlupakan, juga keinginan untuk menyatu di kedua bagian Jerman, serta keinginan untuk bebas di Jerman Timur. Warga Jerman dan warga Berlin ibaratnya seperti dalam keadaan mabuk.

Alexander Kudascheff DW Chefredakteur Kommentar Bild

Alexander Kudascheff

Ini perasaan membahagiakan, yang ketika itu membuat semua orang ternganga. Sebuah hari, sebuah malam yang penuh perasaan tak tergambarkan, yang menunjukkan dengan jelas, bahwa pemisahan selama 40 tahun tidak bisa menghapus rasa persatuan, dan ini juga mengagetkan banyak orang. Ketika itu jugalah tercipta perkataan Willy Brandt yang indah, "Sekarang tumbuhlah bersama, apa yang memang menjadi sebuah kesatuan". Tapi ini perkembangan yang tidak melawan siapapun, terutama tidak terhadap negara tetangga. Revolusi damai ini memastikan posisi Jerman di tengah Eropa.

Perlawanan warga Jerman Timur tidak ditujukan terhadap diktator komunis, tidak terhadap negara yang mengatur segalanya dan menjadi wali kehendak rakyat, seperti dikatakan sebuah buku yang ketika itu dilarang, tapi banyak dibaca di DDR. Ini adalah perlawanan demi sebuah negara yang terbuka, yang tidak memenjara warganya. Oleh sebab itu seruan bagi kebebasan melakukan perjalanan sangat penting.

Sementara seruan bagi pengurangan andil pemerintah dalam hidup rakyat tidak terlalu keras. Karena itu, ini jmenadi ironi sejarah, bahwa dalam Jerman yang menyatu kembali timbul kerinduan warga Jerman di Barat dan Timur akan adanya "negara yang kuat dan menjamin kesejahteraan rakyatnya“. Perlawanan "terhadap negara" adalah perlawanan terhadap "mereka yang berkuasa“, tapi bukan bagi masyarakat yang terbuka.

Jerman setelah 9 November jadi lebih Protestan dan lebih bersifat ketimuran dan secara ideologi lebih lunak dan tidak terlalu kontroversial. Mungkin orang juga bisa mengatakan lebih bersifat kiri. Sekarang Jerman juga direpresentasikan dan diperintah dua warga asal Jerman Timur: yaitu Presiden Joachim Gauck dan Kanselir Angela Merkel.

Pada keduanya orang bisa melihat dampak pengalaman mereka di DDR. Itu kadang juga dikritik. Tapi itu masih termasuk keseharian politik yang normal, dan tidak memisahkan Barat dan Timur. Rasa persatuan lebih dalam dari yang diduga banyak orang. Dan itu dimulai dalam perasaan bahagia bersama, pada tanggal 9 November 1989.

Laporan Pilihan