1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

7 Pekerja Palang Merah Diculik di Suriah

Sejumlah pria bersenjata menculik tujuh pekerja kemanusiaan dari dua organisasi Palang Merah dan Bulan Sabit di provinsi Idlib, salah satu lokasi perang paling brutal di Suriah.

Kabar penculikan ini datang saat dua serangan bom bunuh diri mengguncang ibukota Damaskus, dan bersamaan dengan upaya Palang Merah Internasional ICRC dan organisasi Bulan Sabit Suriah mengevakuasi ribuan orang dari wilayah pinggiran ibukota yang telah berbulan-bulan dikepung oleh angkatan bersanjata Suriah.

Kelompok oposisi kunci, sementara itu mengatakan tidak akan menghadiri pertemuan perdamaian di Jenewa, sebuah kemunduran bagi proposal perdamaian Amerika Serikat-Rusia yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung 31 bulan dan menewaskan lebih dari 115.000 orang.

Para pekerja kemanusiaan – enam orang anggota Palang Merah dan satu orang relawan dari Bulan Sabit – “diculik pagi ini oleh kelompok laki-laki bersenjata tak dikenal di dekat Sareqeb," demikian pernyataan ICRC.

“Kami menyerukan pembebasan segera tanpa syarat bagi tujuh kawan kami,“ kata Magne Barth, kepala delegasi ICRC di Suriah.

Bahaya di basis Oposisi

Dalam pernyataan itu tidak ada keterangan mengenai kebangsaaan mereka yang diculik, dan tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.

Palang Merah, termasuk diantara sangat sedikit kelompok bantuan kemanusiaan yang bekerja di dua wilayah kelompok yang berperang, bekerja ke wilayah Idlib pada 10 Oktober lalu untuk mengamati fasilitas kesehatan dan memberikan bantuan kemanusiaan.

Deutsches Rotes Kreuz Syrien

Palang Merah Internasional adalah satu dari sangat sedikit organisasi kemanusiaan yang punya akses ke wilayah dua pihak yang berkonflik di Suriah

“Konvoi yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Damaskus, jelas ditandai dengan lambang (Palang Merah) ICRC, yang bukan merupakan simbol agama,“ demikian pernyataan organisasi kemanusiaan tersebut.

Kelompok pemberontak menguasai sebagian besar wilayah di provinsi Barat Laut Idlib, yang berbatasan dengan Turki.

Penculikan telah menjadi masalah yang terus berkembang di Suriah yang kini dilanda konflik, dengan para jurnalis dan pekerja kemanusiaan sering menjadi sasaran di wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak, khususnya di bagian utara.

Bulan lalu, seorang pekerja kemanusiaan asal Jerman yang disandera selama hampir empat bulan, melarikan diri dari para penculiknya di kawasan Adlib, sebagaimana dilakukan dua kawannya yang juga berhasil melarikan diri pada Juli lalu, demikian dinyatakan kelompok kemanusiaan Gruenhelme.

Dalam kekerasan hari Minggu malam, dua mobil sarat bahan peledak yang dikendarai para pembom bunuh diri meledakkan diri di dekat markas lembaga penyiaran pemerintah di pusat Damaskus.

Dunia fokus pada senjata pembunuh bukan pembunuh

Di front politik, Syrian National Council menyatakan menolak hadir dalam dialog damai di Jenewa, sambil mengancam akan memecat, jika organisasi yang berada dalam payung kelompok ikut dalam pertemuan.

"Syrian National Council... telah mengambil keputusan tegas.., tidak akan pergi ke Jenewa dalam situasi (syarat) apapun,” kata ketua dewan tersebut George Sabra.

Sabra mengatakan, komunitas internasional telah gagal menghukum rezim atas serangan senjata kimia pada 21 Agustus silam di luar ibukota Damaskus yang menewaskan ratusan orang.

“Komunitas internasional hanya fokus pada senjata pembunuh, yang mana itu adalah senjata kimia, dan membiarkan para pembunuh tidak dihukum dan melupakan para korban,” kata Sabra.

“Kami tidak akan berpartisipasi dalam sebuah konferensi yang dimaksudkan untuk menyembunyikan kehahalan politik internasional.”

Sementara itu, Sekjen PBB Ban Ki-moon menunjuk Sigrid Kaag untuk memimpin misi badan dunia itu bersama kelompok pemantau senjata kimia untuk bekerja memusnahkan senjata kimia milik rezim Bashar al-Assad.

Perempuan itu sebelumnya menjabat asisten bagi sekjen PBB di UNDP. Ia telah bekerja sejak 2007 sebagai Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.


ab/hp (afp,ap,rtr)

Laporan Pilihan