1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

67 Menit Kerja Sosial

Memperingati hari ulang tahun ke-93, Nelson Mandela kembali ke desa masa kecilnya. Dalam perayaan kali ini, yayasan sosial Mandela mengajak masyarakat dunia meluangkan waktu 67 menit melakukan kerja sosial di hari ini.

***Achtung: Nur zur Rezension dieses Titels verwenden!*** Bekenntnisse [Gebundene Ausgabe] Nelson Mandela (Autor), Werner Roller (Übersetzer), Anne Emmert (Übersetzer), Hans Freundl (Übersetzer)

Cover Bekenntnisse Biographie Nelson Mandela

Sebuah pidato legendaris seorang pejuang demokrasi dari negeri Afrika Selatan: „Saya telah berjuang melawan melawan dominasi kulit putih dan kulit hitam. Saya selalu percaya, akan adanya masyarakat yang bebas dan demokratis, yang hidup bersama dengan harmoni dan memiliki kesempatan yang sama. demi terpenuhinya nilai ideal ini, saya bersedia mencurahkan hidup saya, dan bahkan saya bersedia mati untuk itu.“ Pidato ini diucapkan Nelson Mandela, presiden pertama Afrika Selatan berkulit hitam, yang mengajarkan pada dunia: semangat pengampunan lewat rekonsiliasi di negerinya.

Nelson Mandela Fußball WM Finale

Nelson Mandela tampil di publik terakhir saat menyaksikan final Piala Dunia

Pada tanggal 18 Juli 2011 ini, Mandela tepat berusia 93 tahun. Di hari ulang tahunnya ini, atas permintaan yayasan sosialnya -- yang mendapat pengakuan dari PBB – diserukan aksi kerja sosial selama 67 menit. Angka itu dipilih untuk merepresentasikan 67 tahun kiprah Mandela di dunia politik.

Sebenarnya, mantan presiden Afrika Selatan itu telah tiba di desa masa kecilnya, Qunu, Eastern Cape, namun napak tilasnya kali ini dirahasiakan dari publik. Diperkirakan peraih penghargaan Nobel Perdamaian itu ingin merayakan hari jadinya ke 93 bersama keluarga, yang mendampinginya terus sejak ia dirawat di rumah sakit Januari lalu. Disebutkan, Mandela sempat menderita gangguan saluran pernafasan.

Terakhir kali ia muncul di publik adalah sesaat sebelum ulang tahunnya yang terakhir, ketika menyaksikan final Piala Dunia, bersama istri ketiganya Graca Machel.

Dalam peringatan hari jadinya tahun ini, yayasan Mandela mengundang 93 anak dari berbagai pelosok negeri, meski mereka tak dijanjikan untuk bertemu langsung dengan pria yang dikenal sebagai Madiba, yang merupakan sebutan khasnya.

Nelson Mandela nach seiner Freilassung 1990

Nelson Mandela tahun 1990

Lagu selamat ulang tahunpun berkumandang di seluruh negeri, dinyanyikan dalam waktu yang bersamaan oleh sekitar 12,4 juta anak sekolah di Afrika Selatan. Sejumlah perusahaan, badan sosial dan selebritis juga mengumumkan rencana aktivitas berkaitan dengan hari jadi Mandela. Misalnya kelompok pengemudi motor akan melakukan kerja sosial dalam perjalanannya dari Johannesburg ke Pretoria.

Sementara Presiden FIFA Sepp Blatter dan bintang reality show AS Kimora Lee Simmons, menjadi bagian dari 67 orang yang membubuhkan cap tangan mereka di Kanvas Warisan Mandela. Kanvas ini akan dilelang di Cape Town pada akhir pekan mendatang dan dana penjualannya akan disumbangkan untuk kegiatan sosial.

Kegiatan lain adalah masyarakat dipersilahkan membersihkan dan mengecat sekolah dan panti-panti asuhan dan jam operasi bank darah diperpanjang untuk memberi keleluasan waktu bagi orang-orang yang ingin menyumbang darah.

Sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan, Mandela sangat dihormati atas perjuangannya menegakan demokrasi dan pengorbanan dirinya hingga dipenjara selama 27 tahun ketika menentang Apartheid.

Nelson Mandela Freilassung 1990

Nelson Mandela setelah dibebaskan , tahun 1990

Dibebaskan pada tahun 1990, Nelson Mandela memimpin negosiasi yang membuka jalan ke arah pemilu tahun 1994. Di tahun tersebut, untuk pertama kalinya warga kulit hitam di negeri itu memperoleh haknya untuk memilih. Dengan menggunakan pendekatan penuh kehangatan, bermartabat, yang diselingi humor untuk membantu membuka proses rekonsiliasi akibat perpecahan rasial di negerinya, ia membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC), dengan ketua Uskup Agung Desmond Tutu.

afp/dw/Dagmar Wittek/Purwaningsih

Editor : Pasuhuk