1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

65 Tahun Pakistan dan India

14 Agustus 2012

Konflik Pakistan dan India sudah ada sejak masa kependudukan Inggris di India. 65 tahun dan beberapa perang kemudian, muncul pertanda pendekatan. Tetapi masih sulit untuk saling percaya.

https://p.dw.com/p/15pax
Foto: AP

Tahun 1947, Inggris yang keuangannya hancur karena perang dunia kedua, harus menarik diri dari India. Akhir Inggris-India secara bersamaan berarti pembagian bekas wilayah koloni ke negara independen baru India dan Pakistan (dulu masih Pakistan Barat dan Pakistan Timur, kini Bangladesh). Jutaan umat Hindu, Muslim dan Sikh terusir karenanya. Jumlah warga yang menjadi korban kekerasan bermotif agama diperkirakan mencapai satu juta orang. Perbatasan India-Pakistan di barat laut tidak jelas, sehingga terjadilah sengketa Kashmir yang berlanjut hingga sekarang. Kedua negara merasa wilayah Kashmir adalah miliknya. Ketegangan-ketegangan ini memicu perang di tahun 1947, 1965, 1971 dan 1999.

Saling tidak percaya

Tahun 1947, banyak politisi India berharap bisa mencegah pemisahan Pakistan. Harapan akan bersatunya seluruh wilayah juga masih ada hingga sekarang. Pakistan merasa terancam dari negara tetangganya yang semakin berkembang. Ketakutan Pakistan adalah, India menganggap dirinya negara adidaya di kawasan itu dan ingin mendominasi negara tetangganya yang lebih kecil. Rasa tidak percaya selalu ada dalam hubungan bilateral ini. Di kedua negara, negara tetangga dianggap sebagai musuh oleh mayoritas warganya.

Indische Soldaten am Siachen Gletscher
Tentara India di Kashmir.Foto: APTN

Seharusnya tidak seperti itu. Pendiri dan presiden pertama Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, ingin mendirikan demokrasi parlemen yang sekuler. Ia meninggal sebelum mencapai tujuannya. Penerusnya punya pendapat berbeda. Militer yang merasa berhak menentukan politik dalam dan luar negeri, setelah berbagai kudeta militer, memerintah negara ini lebih lama dari pemerintahan sipil otoriter.

Ali Jinnah Pakistan
Pendiri Pakistan Ali Jinnah inginkan negara sekuler.Foto: AP Photo

Dampak invasi Soviet di Afghanistan

Di tahun 80an masalahnya semakin pelik. Saat invasi Soviet di Afghanistan, Pakistan menjadi lokasi kebangkitan pemberontak Islam, diantaranya Osama bin Laden, yang dibiayai oleh CIA. Diktator militer Pakistan saat itu, Zia ul Haq, mengambil kesempatan menjalankan islamisasi di negara itu yang hingga kini masih mempengaruhi politik disana. Dinas rahasia ISI yang berkuasa memanfaatkannya untuk mendukung kelompok ekstrim Islam, terutama Lashkar e-Taiba yang kerap melakukan serangan teror di Kashmir dan India. Serangan berdarah di Mumbai tahun 2008 juga tanggung jawab kelompok ini.

Pakistan Zaheerul Islam
Jenderal Zaheerul Islam pimpinan dinas rahasia ISI.Foto: AP

Media kedua negara tidak melakukan banyak hal untuk memperbaiki hubungan. Pemberitaan tetap sepihak dan penuh dengan hal-hal klise. Jurnalis dari kedua negara mengeluh, pemberitaan yang obyektif dihambat oleh kelembagaan. Begitu juga di bidang pendidikan. Marva Bari, jurnalis di Islamabad, tahu persisi bagaimana sistem pendidikan menuntut kebencian terhadap India. Kaum muslim digambarkan sebagai korban, sementara sosok lain sebagai orang jahat. Anak-anak dibesarkan dengan kepercayaan, bahwa India adalah musuh utama Pakistan dan lebih banyak yang memisahkan kedua negara dibandingkan hal-hal yang bisa menyatukannya."

Madrassa in Pakistan
Sekolah Pakistan dituduh ajarkan murid untuk membenci India.Foto: AP

Kemajuan akan datang

Pembicaraab akan lebih banyak hubungan antar warga ditunda setelah serangan Mumbai. Kuldip Nayar, jurnalis dan aktivis perdamaian India, tetap optimis. "Butuh waktu lama. Pemerintah tidak punya alternatif untuk perdamaian. Tidak akan ada perang. Hari ini, esok, kemudian, kedua pihak akan terus bernegosiasi. Tidak akan ada langkah dramatis seperti jatuhnya tembok Berlin, tetapi suatu saat kami akan memiliki hubungan lebih baik."

Kesediaan India mengijinkan investasi dari Pakistan, sepertinya membuka pintu gerbang akan kesepakatan. Moonis Ahmar, profesor Universitas Karachi: "Perdagangan bilateral akan memperbaiki hubungan antar India dan Pakistan, karena bisnis akan meningkatkan hubungan antar warga." Namun, ia juga memperingatkan: "Beberapa kalangan di India dan Pakistan pasti menentang hubungan semacam itu. Tetapi jika masyarakat sipil mendukung perdagangan dan investasi India dan Pakistan, maka para pendukung perang harus bersiap kalah."

Markt in der Hafenstadt Cochin in Indien
Perdagangan diharapkan wujudkan ketenangan politik.Foto: picture-alliance/dpa

Sikap Pakistan terhadap terorisme

Langkah ini juga dinilai positif di India. Savita Pande, profesor di Universitas Jawaharlal Nehru: "Sepertinya positif. Kami juga mengalami kemajuan dalam perdagangan. India untuk pertama kalinya mengijinkan Pakistan untuk berinvestasi di India. Pakistan berjanji memberikan India status paling menguntungkan hingga akhir tahun."

Nayar memperingatkan untuk tidak berharap terlalu banyak. India ingin ada langkah berikutnya dari Pakistan. "Menurut saya, India ingin agar Pakistan melakukan sesuatu terhadap teroris yang menyerang Mumbai. Tapi Islamabad tidak melakukan apa-aüa. Mereka mengulur waktu dan tidak kehilangan efeknya di India."

Grahame Lucas / Vidi Legowo-Zipperer

Editor: Dyan Kostermans