1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

40 Tahun Teater Tari Pina Bausch

1973 Pina Bausch dirikan teater tari Wuppertal dan terkenal di seluruh dunia. Empat tahun sepeninggalannya, teater itu rayakan ulang tahun. "Pina 40", sebuah perayaan antara kilas balik dan awal baru yang sulit.

Pina Bausch sebetulnya tidak ingin melakukannya. Tapi ia berhasil diyakinkan, dan ia menjadikan balet di teater kota yang sederhana menjadi teater tari revolusioner, dan jadi salah satu ekspor utama kebudayaan Jerman. Sekarang Lutz Förster yang memimpin teater tari Wuppertal.

Sejak 1975, Lutz Förster sudah jadi anggota kelompok tari tersebut. Sekarang ia juga memimpin pagelaran untuk perayaan ulang tahun, yang memaparkan kilas balik seluruh karya mantan pemimpinnya, Pina Bausch, yang meninggal empat tahun lalu. Pagelaran diawali "Palermo Palermo" dari tahun 1989, sebuah karya yang diproduksi di luar negeri, seperti karya-karya Bausch lainnya. Inspirasinya diperoleh dari kota Palermo di Sisilia dan penduduknya.

Wuppertal Terkejut

"Buat saya tidak penting, bagaimana orang bergerak, melainkan apa yang menggerakkan orang". Perkataan Pina Bausch yang banyak dikutip ini tampak dalam karyanya, yang jauh berbeda dari keelokan gerakan balet klasik. Seniman perempuan itu selalu mencari sesuatu yang membangkitkan hati orang. Atau mematahkan semangat. Jika di panggung para penari berjalan di depan tembok ambruk sambil menundukkan kepala dengan sikap sedih, itu lambang deformasi jiwa.

Sehari sebelum pembukaan, dalam gladi resik "Palermo Palermo", Lutz Förster tidak mengadakan perubahan. Sedangkan Pina Bausch kerap masih mengadakan perubahan besar, menjelang pertunjukan perdana. Förster mengatakan, ia bukan koreografer. Ia bertugas melatih dan menjaga agar karya-karya itu tetap hidup.

Tapi Förster punya kemampuan untuk itu. Sebagai penari ia mengalami bagaimana Pina Bausch melaksanakan revolusi seni. Ia terus-menerus mengkonfrontasikan warga Wuppertal dengan teater bergaya spesial. Misalnya dengan karya berjudul Blaubart. "Itu menjadi kejutan besar bagi warga", kata Förster. Setelah itu butuh waktu lama, sampai penonton lain datang, yakni penonton, yang biasanya menjadi penikmat teater, bukan seni tari.

40. Geburtstag des Tanztheaters Pina Bausch

Salah satu tarian yang dipagelarkan untuk perayaan ulang tahun

Sukses di Luar Negeri

Di luar negeri lain situasinya, tutur Förster, itu yang membuat menarik. Mereka disukai dan mendapat reaksi yang menyenangkan. Teater tari Wuppertal diundang ke festival-festival penting, di mana seniman karya-karya modern bertemu, juga penonton yang sesuai. Tapi itu bukan alasan satu-satunya. Bagi Pina Bausch sangat menyenangkan mengenal kebudayaan lain, kata Lutz Förster. Karena Bausch tertarik untuk mengenal orang, ia tertarik untuk mengenal kaitan antar kebudayaan, langsung di mana orang hidup.

Dengan sikap itu berkembanglah karya seperti "Palermo, Palermo". Lutz Förster berkata, "Saya semakin mengagumi Pina. Ia menciptakan sesuatu yang universal, yang ada penontonnya di seluruh dunia." Juga empat tahun setelah meninggalnya Pina Bausch akibat kanker, permintaan dari luar negeri terus berdatangan.

Deutschland Kultur Tanztheater Pina Bausch in Wuppertal Iphigenie auf Tauris

Teater tari Wuppertal mempertunjukkan karya berjudul "Iphigenie auf Tauris"

Masalah Biaya

Ketenaran itu ibaratnya kutukan sekaligus berkat. Sebagai "merek" yang terkenal di seluruh dunia, teater tari itu masih bisa terus menampilkan karya-karya Pina Bausch dan berkeliling dunia, tanpa berkurangnya permintaan. Tapi mereka tidak bisa terus hidup hanya dengan identitas sebagai pemuja Pina Bausch. Kelompok tari itu perlu menambah anggota berusia muda. Tapi untuk itu tidak ada biaya. Masalah biaya juga mempersulit penetapan orientasi baru.

Kota Wuppertal tidak mampu menyokong lagi. Sekarang banyak yang menuntut pemerintah Jerman memberi dukungan. Mengingat jasa teater tari Pina Bausch bagi citra Jerman di dunia, keputusan untuk itu sebenarnya tidak sulit diambil.