1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

40 Juta Euro untuk Penelitian Implan Otak

Peneliti militer AS mengumumkan tersedianya dana jutaan Euro untuk pengembangan jenis baru implan otak, yang dapat membantu mengembalikan memori tentara atau warga sipil yang terluka.

Ini merupakan lompatan ilmiah besar. Namun para ahli mengatakan, banyak rintangan yang dilalui sebelum jenis baru implan otak ini dilakukan terhadap manusia, demikian ditandaskan Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA).

Harapannya adalah bahwa di masa depan, perangkat implan nirkabel akan menjembatani kesenjangan dalam otak yang terluka dan membuat pasien lebih mudah untuk mengingat peristiwa mendasar, tempat, dan konteks tertentu- yang dikenal sebagai kenangan deklaratif.

Memanggil memori kembali

Penelitian otak

Kenangan semacam ini bisa terganggu, jika terjadi cedera otak traumatis, yang telah menimpa 270.000 militer Amerika Serikat sejak tahun 2000 dan 1,7 juta warga sipil AS setiap tahunnya.

"Visi kami adalah untuk mengembangkan neuroprosthetics untuk pemulihan memori pada pasien yang hidup dengan cedera otak dan disfungsi," kata Justin Sanchez, yang merupakan manajer dari program Mengembalikan Memori Aktif (RAM) di DARPA.

Tes pertama pada pasien epilepsi

Penelitian ini didukung Presiden Barack Obama Brain Initiative. Penghargaan terbaru DARPA diberikan sebesar 22,5 juta dolar kepada sebuah tim ilmuwan di University of Pennsylvania, 15 juta dolar untuk University of California, Los Angeles, dan 2.5 juta dolar untuk Lawrence Livermore National Laboratory.

Setiap perangkat neuroprosthetic baru akan diuji pertama kali pada pasien epilepsi yang juga telah menderita kehilangan memori akibat kondisi mereka, dan yang sudah ditanamkan dengan elektroda sebagai bagian dari pengobatan mereka, demikian kata para peneliti.

Jika berhasil bagi pasien tersebut, "maka kita akan memperoleh informasi yang sangat berharga tentang bagaimana untuk mengembalikan fungsi memori yang normal pada pasien dengan cedera otak traumatis atau penyakit Alzheimer," kata Michael Kahana, direktur laboratorium Komputasi Memori Penn.

Sebuah pernyataan dari UCLA mengatakan para ilmuwan akan mencari cara untuk "campur tangan dengan stimulasi listrik canggih untuk membantu memulihkan fungsi memori."

Sebagai contoh, pasien akan diminta ke toko, dimana ia perlu untuk mengingat nama toko, di mana ia berada, mungkin nomor telepon atau nama pemilik toko. Fakta-fakta tersebut bisa sulit untuk diingat ketika seseorang memiliki cedera otak traumatis. "Pada akhirnya, kami ingin mencari solusi untuk aspek emosional, sosial dan ekonomi mereka yang cedera," kata Sanchez.

ap/hp(afp)

Laporan Pilihan