10 Tahun Setelah Kerusuhan di Gujarat | dunia | DW | 27.02.2012
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

10 Tahun Setelah Kerusuhan di Gujarat

Satu dekade telah berlalu, namun api masih membara. Karena semua komisi yang ditugaskan pemerintah tak mampu mengungkap siapa yang bertanggungjawab dalam kerusuhan di Gujarat.

27 Februari 2002, sekelompok muslim yang marah memicu pembantaian paling berdarah dalam sejarah modern India. Awalnya sebuah gerbong kereta api Express Sabarmati dibakar oleh gerombolan, dekat kota Godhra, Gujarat.

59 orang, banyak diantaranya perempuan dan anak-anak, tewas. Kebanyakan dari mereka adalah anggota kelompok Hindu fanatik yang dalam perjalanan pulang dari Ayodhya, dimana nasionalis Hindu 10 tahun sebelumnya menghancurkan mesjid Babri yang berusia satu abad.

Negara bagian Gujarat membara. Sekitar 1000 orang, kebanyakan muslim, dibunuh secara keji. Setelah beberapa hari, dan militer dikerahkan, pembantaian berakhir.

Trauma masyarakat

Dalam 10 tahun terakhir, banyak yang ditulis tentang kerusuhan berdarah di Gujarat. Tentang kekejaman, kebencian, rasa terkejut akan kemampuan manusia dalam melakukan kekejian itu. Sampai hari ini, bentrokan di Gujarat bukan hanya menjadi trauma bagi korban yang selamat, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan, kata psikolog kondang Aruna Bruta dari New Delhi.

“Masyarakat awalnya akan lumpuh akibat syok semacam itu. Jika mereka kini berupaya kembali ke kesibukan sehari-hari dan bangkit dari syok itu, maka kita bisa lihat ada sejenis depresi yang melingkupi. Seperti penyakit. Lalu kemarahan muncul kembali, seperti serangan demam", kata Bruta. "Pertama ini yang kena, kemudian yang lain. Beberapa bilang Muslim yang salah,yang lain bilang Sikhs yang buruk, terus sambung menyambung. Entah bagaimana perasaan kebersamaan bisa ditumbuhkan kembali?“

Menurut psikolog Aruna Bruta, upaya untuk pulih dari trauma terganjal antara lain oleh fakta bahwa 10 tahun setelah bentrokan terjadi, mereka yang bertanggungjawab tak kunjung dihadapkan ke pengadilan. Depresi, takut terus menerus, susah tidur dan keluhan fisik yang tak bisa diterangkan adalah akibat yang harus dihadapi korban selamat. Jumlah kasus bunuh diri di kawasan Gujarat melonjak, beberapa bulan setelah bentrokan.

Peran parpol

Antropolog Jerman Julia Eckert dari Universitas Bern meneliti peristiwa di Gujarat sejak 2002. Ia terkejut bahwa hampir tak ada kesadaran akan ketidakadilan dalam mayoritas masyarakat, dan warga Hindu yang ia temui merasakan semacam kemenangan. Ini bertentangan dengan citra negara multi budaya dan multi agama yang selalu berusaha ditampilkan oleh India.

Eckert mengatakan, "Ada konflik membara yang tidak terlepas dari politik, permusuhan yang dirancang antara hindu dan Muslim, bagi partai politik, dan politik yang dijalankan India. Konflik di tingkat lokal kebanyakan kecil. Semua kerusuhan dan konflik lebih besar menunjukkan adanya peran sangat besar dari organisasi politik."

Dalam kasus Gujarat, bentrokan terutama dimanfaatkan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berhaluan hindu nasionalis. BJP kerap menampilkan muslim sebagai musuh agar para pemilih Hindu mencari perlindungan kepada partai ini.

Peran PM Gujarat saat itu, Narendra Modi dari BJP, sampai sekarang tidak jelas. Ia dikritik karena saat itu meminta polisi untuk tidak turun tangan. Sebaliknya, PM saat ini Manmohan Singh dari partai Kongress Nasional India, berusaha tampil sebagai penyelamat muslim. Semua komisi yang ditugaskan untuk menyelidiki peristiwa itu membawa hasil yang berbeda-beda. Api di kereta ekspres Sabarmati bahkan bisa saja diakibatkan hubungan arus pendek, begitu menurut salah satu teori.

Bahaya radikalisasi

Pakar trauma Aruna Bruta kuatir, khususnya anak-anak yang selamat dalam tragedi itu, dalam hal ini generasi berikutnya, tidak bisa mencerna peristiwa itu. Bahayanya, radikalisasi jangka panjang. "Anak-anak belum begitu mampu dan berpengalaman untuk dapat membedakan apa yang terjadi, siapa dalangnya, apakah itu kekerasan bermotif politik.", kata Bruta.

Mereka hanya merasakan kepedihan karena ayah atau ibunya tewas, saudara perempuannya diperkosa. "Mereka hanya melihat bahwa kelompok agama lain yang melakukan kejahatan ini. Dari situ muncul kemarahan yang bahkan tak bisa dihapus oleh penyuluhan atau pendidikan“, tambah Bruta.

Lebih banyak pakar trauma dilibatkan, lebih banyak penyuluhan di sekolah dan niat jujur para politisi untuk mewujudkan India yang multi agama dan multietnis. Inilah yang dituntut para pakar seperti Aruna Bruta. Hanya dengan dapat dihindari ekses kekerasan antara kelompok agama di India, negara demokrasi ketiga terbesar di dunia.

Priya Esselborn/ Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk